Bumiku Hijau
Apa sebenarnya keuntungan Bumi Hijau bagi mahluk hidup yang ada di dunia ini? Pertanyaan ini hampir tidak pernah singgah dengan permanen di pikiran manusia yang begitu intens menggunakan segala isi bumi sebagai pertahanan hidup. Tempat berpijak, berlindung dari segala bentuk serangan mahluk hidup lainnya sekitar tempat ia memperoleh kehidupan.
Manusia baru akan berfikir tentang itu setelah lingkungan tempat ia hidup beraksi negatif melalui proses alami yakni bencana. Bencana alam dapat hadir sebagai akibat diundang oleh manusia. Secara sadar sebenarnya kita telah melakukannya dengan benar dan baik untuk melukai suatu sistem yang dapat mempengaruhi sebuah proses perubahan dengan begitu cepat dan efektif.
Sebagian bencana alam merupakan reaksi dari perilaku manusia untuk mengambil lebih dari apa yang dipersembahkan alam pada mahluk hidup. Perilaku melebihi strata mahluk terendah kita adopsi sebagai ego penguasa bumi untuk diperlihatkan pada mahluk sederajat. Kita mengambil sifat itu dengan sempurna yakni sebagai mahluk primitif, tamak, rakus dan tidak bertanggungjawab.
Begitu mudahnya kita merusak ekosistem dengan penuh kesadaran, menebang dan membakar tanpa rasa peduli. Tetangga kitapun bermigrasi ke tempat yang bukan habitatnya dan memaksa ragam kerumunan itu sebagai mahluk baru yang dapat dengan begitu mudah menyerang dan merusak ketentraman manusia. Banjir dan longsor adalah bentuk campur tangan manusia dari upaya illegal loging, pembakaran dan eksploitasi isi perut bumi secara besar-besaran.
Akhirnya manusia akrab dengan gelimpangan mayat, kehilangan sanak keluarga dan kehilangan harta karena reaksi alam. Sedikit dari kita baru menyadari bahkan hanya sebatas euforia bahwa alam akan memberikan jawaban setelah kita tidak bertanya. Lengking jeritan dan tangis akibat kehilangan, sesaat menghentak bathin dan fikiran untuk segera menghentikan perbuatan keji kita terhadap alam.
Lalu kita berkata,”Hentikan!”. Sejenak semuanya hening lalu menangis. Besok kata itu hilang dari ingatan dan kita berpaling sambil sebelah tangan kita merusak bahagian yang lain. Bahkan perilaku jahat itu kita wariskan kepada anak dan cucu sebagai kado kehancuran. Alam selalu menepati janjinya, dia begitu amanah dan ramah bagi mahluk apa saja yang menyayanginya.
Sekarang tidak ada tawaran dari alam selain kita dipaksa untuk peduli, mengasihi dan menyayangi terhadap putaran ekosistem. Bumiku Hijau menjanjikan bagi semua mahluk yang hidup dan mendapat manfaat darinya untuk segera diwujudkan. Ia merupakan keindahan hidup yang begitu sempurna dan akan menjanjikan kehidupan yang lebih baik bagi kelangsungan anak dan cucu.
Memulai menanam sebatang pohon sejak kecil dari setiap pribadi manusia pasti akan menjadikan Bumiku Hijau.


