Posted by: zulion | 29 Juli 2009

Nyanyian Alam

Bumiku Hijau

hutan

hutan


Apa sebenarnya keuntungan Bumi Hijau bagi mahluk hidup yang ada di dunia ini? Pertanyaan ini hampir tidak pernah singgah dengan permanen di pikiran manusia yang begitu intens menggunakan segala isi bumi sebagai pertahanan hidup. Tempat berpijak, berlindung dari segala bentuk serangan mahluk hidup lainnya sekitar tempat ia memperoleh kehidupan.

Manusia baru akan berfikir tentang itu setelah lingkungan tempat ia hidup beraksi negatif melalui proses alami yakni bencana. Bencana alam dapat hadir sebagai akibat diundang oleh manusia. Secara sadar sebenarnya kita telah melakukannya dengan benar dan baik untuk melukai suatu sistem yang dapat mempengaruhi sebuah proses perubahan dengan begitu cepat dan efektif.

Sebagian bencana alam merupakan reaksi dari perilaku manusia untuk mengambil lebih dari apa yang dipersembahkan alam pada mahluk hidup. Perilaku melebihi strata mahluk terendah kita adopsi sebagai ego penguasa bumi untuk diperlihatkan pada mahluk sederajat. Kita mengambil sifat itu dengan sempurna yakni sebagai mahluk primitif, tamak, rakus dan tidak bertanggungjawab.

Begitu mudahnya kita merusak ekosistem dengan penuh kesadaran, menebang dan membakar tanpa rasa peduli. Tetangga kitapun bermigrasi ke tempat yang bukan habitatnya dan memaksa ragam kerumunan itu sebagai mahluk baru yang dapat dengan begitu mudah menyerang dan merusak ketentraman manusia. Banjir dan longsor adalah bentuk campur tangan manusia dari upaya illegal loging, pembakaran dan eksploitasi isi perut bumi secara besar-besaran.

Akhirnya manusia akrab dengan gelimpangan mayat, kehilangan sanak keluarga dan kehilangan harta karena reaksi alam. Sedikit dari kita baru menyadari bahkan hanya sebatas euforia bahwa alam akan memberikan jawaban setelah kita tidak bertanya. Lengking jeritan dan tangis akibat kehilangan, sesaat menghentak bathin dan fikiran untuk segera menghentikan perbuatan keji kita terhadap alam.

Lalu kita berkata,”Hentikan!”. Sejenak semuanya hening lalu menangis. Besok kata itu hilang dari ingatan dan kita berpaling sambil sebelah tangan kita merusak bahagian yang lain. Bahkan perilaku jahat itu kita wariskan kepada anak dan cucu sebagai kado kehancuran. Alam selalu menepati janjinya, dia begitu amanah dan ramah bagi mahluk apa saja yang menyayanginya.

Sekarang tidak ada tawaran dari alam selain kita dipaksa untuk peduli, mengasihi dan menyayangi terhadap putaran ekosistem. Bumiku Hijau menjanjikan bagi semua mahluk yang hidup dan mendapat manfaat darinya untuk segera diwujudkan. Ia merupakan keindahan hidup yang begitu sempurna dan akan menjanjikan kehidupan yang lebih baik bagi kelangsungan anak dan cucu.

Memulai menanam sebatang pohon sejak kecil dari setiap pribadi manusia pasti akan menjadikan Bumiku Hijau.

Tags: , , , , , ,

Posted by: zulion | 29 Juli 2009

Lubang Yang Sama

Ketika kita masuk/ terjerumus pada satu lubang (tentu tidak menyadari) karena keadaan gelap maka hal pertama yang kita lakukan adalah mengangkat kaki tersebut dari lubang, kalau yang masuk kaki kiri atau kanan (kalau dua berarti nyemplung) dan berupaya untuk menghindar. Kita akan berusaha untuk menariknya dengan sedaya upaya agar tidak terjadi luka, basah atau kotor.

Lubang disini tentunya berarti kedalaman yang mengandung sesuatu yang tajam, runcing, tumpul, ada binatang berbisa atau mengandung air dan najis atau lumpur. Secara fisik, lubang dapat terjadi karena proses alami karena gerusan atau longsor atau sengaja dibuat orang lain untuk suatu kebutuhan tertentu bukan untuk mencelakai orang lain atau memang sebaliknya.

Dikeseharian kita, arti “lubang yang sama” tidak selalu berpedoman pada arti gramatikal tapi dapat atau berarti pada kejadian yang sama dan tidak menyangkut sama sekali dengan lubang. Dapat dikatakan bahwa suatu peristiwa dimana seseorang mengalami suatu keadaan buruk yang sama yang tidak diinginkannya tapi terjadi sama dengan yang pertama.

Peristiwa atau kejadian ini ada yang tidak disadari dan ada yang disadari. Kalau kita berusaha untuk menghindar dan menjauh dari lubang tersebut dengan tujuan agar tidak masuk kembali dalam lubang itu, berarti ada kesadaran bahwa masuk kedalam lubang tersebut tidak enak, kotor atau sakit karena terluka. Keputusannya adalah mencari jalan lain yang tidak berlubang.

Sebaliknya ada yang menyadari. Kita merancang untuk tetap mengambil jalan dimana kita pernah masuk/ terperosok disana. Persiapan dilakukan dengan matang dan kita mengira-mengira bahwa lubang tersebut berada jauh dari kita dan memutuskan untuk melalui jalan gelap itu. Nyatanya kita masuk lagi, karena memang jalan itu penuh dengan lubang dan kita tak tahu disebelah mana.

Tidak ada yang menginginkan kejadian tersebut berlangsung dalam kehidupan siapapun kecuali seseorang yang senang dengan lubang itu. Mungkin kita tidak menyadari bahwa sebenarnya ada rambu atau pemberitahuan dari orang lain tentang jalan diujung sana. Mungkin kita malu mendengarkan nasihat yang disampaikan seorang anak kecil tentang situasi diujung jalan gelap itu, terkadang kita malah membentaknya.

Sifat lucu kita muncul, mungkin karena sudah berpendidikan, banyak makan garam dan sudah merasa tua, akan terasa kontras dengan nasihat yang disampaikan orang yang tidak berpendidikdan, kurang garam dan masih muda. Kelucuan itu akhirnya jadi tidak lucu dan berubah jadi tangisan dan penyesalan karena kita akhirnya masuk kedalam lubang yang sama. Brak……Aduh…… Tolong……!!! Dan sianak tadi …

Tags: , , , ,

Posted by: nasution | 24 Juli 2009

adeniumku


Posted by: John Godley | 23 Juli 2009

Gravatar Widget

A

Posted by: zulion | 19 Juni 2009

Presiden Alternatif RI

Presiden Alternatif RI

“ ? “ Presiden yang paling pas untuk kondisi Indonesia saat ini diantara 3 pasang yang ditawarkan Partai-partai pemenang Pemilu ? Idealnya tidak ada. Ketiga Capres sudah pernah memimpin, dan mereka kembali ingin memimpin. Tidak ada aturan main tentang ukuran prestasi seorang Presiden. Sebaliknya rakyat punya standart untuk itu.

Kita tidak mengerti mengapa mereka mencalonkan diri kembali. Rakyat tidak demikian (menginginkan mereka kembali), tapi hanya keinginan dari pengurus Partai. Ya, kepentingan kekuasaan belaka. Soal Presiden, rakyat tidak pernah memikirkan partai tapi lebih daripada sosok seorang pemimpin pembawa perubahan.

Berbanding terbalik apa keinginan Parpol. Kekuasaan, kekuatan dan arogansi partai masih menjadi standart pertarungan dengan calon partai pemenang lain. Mereka tidak akan rela meyerahkan kepada orang bukan pengurus partai. Sudah bisa dipastikan orang dalam bukan merupakan representasi dari kebutuhan Negara dan keinginan rakyat.

Tidak jelas dasar dan filosofi partai untuk mengajukan anggota keluarga kalau hanya memperoleh 20% kursi atau suara. Anehnya, cuma 14 % pun berani mencalonkan padahal nyata itu bukanlah angka menurut UU. Bisa dipaksa, dengan koalisi-koalisi. Jelas sekali si penyumbang juga lebih parah nilainya. Gabungan partai ini memaksakan diri untuk memimpin suatu Negara. Wow….

Jangan tanya Parpol, sejuta dalih dan jawaban bisa dia sajikan. Mari kita ambil contoh kepedulian para calon Presiden (sudah pernah mimpin) pada rakyat dan kedaulatan Negara ini. Kisah Ambalat, Sipadan dan Ligitan tidak ada yang bisa, justru kita makin kecil. Hutang ? kenapa rakyat makin terus terpuruk miskin. Padahal kita kaya segalanya. TKI dan perlindungan warga Negara di luar negeri dan tingkat pengangguran yang terus meningkat.

Bagaimana bisa mereka berkampanye dihadapan rakyat dan berjanji-janji untuk melakukan hal yang pasti sama. Luar biasa. Rakyat tidak punya pilihan lain selain apa yang disodorkan partai yang membuat UU. Semua pesimis dipesta ini, toh tidak dapat makanan, hanya tertegun menatap kehampaan.

Presiden alternatif adalah orang yang bukan dari ketiganya. Bukan yang coba ingin memimpin lagi dan berkuasa lagi. Presiden yang mampu membangkitkan semangat rakyat untuk membuat perubahan, mempertahan se-inci tanah demi harga diri dan kedaulatan negara adalah Presiden alternatif kita. Siapakha dia ? Dia adalah anda, yang bukan dari bagian dan perancang serta pendukung ketiga-tiganya.

Tags: , , , , , ,

Posted by: zulion | 15 Juni 2009

Kita dan Penguasa

~ derita anak bangsa

Usaha dan upaya seorang ibu terbayar sudah. Dia peluk anak perempuannya setelah sekian lama “ditahan” di Negeri jiran. Sang ibu mengaku telah salah mengambil keputusan untuk mempertemukan anaknya dengan seorang “pangeran”.

Linangan air matanya tak henti dan memohon kepada siapa saja agar ia dapat dipersatukan kembali pada anaknya. Contoh ironi kehidupan seorang ibu Manohara adalah sensasi biasa kehidupan jamak kita.

Sederet kasus ibu, anak, suami, saudara didera di negara lain yang tidak memperoleh keuntungan dari segala upaya perjuangan sungguh-sungguh untuk mencari keadilan dan kebenaran dikesendiriannya.

Pemandangan yang biasa akhirnya dimata dan hati selain ibu, selain anak, selain suami, selain saudara untuk melihat perjuangan mereka yang tak berbuah. Hanya kepedihan dan hamparan harapan tak teraih diantara saudara sebangsa.

Hati kita menjadi keras, sekeras derita perjuangan menggapai kepastian. Saya tahu, kita tahu, mereka tahu bahwa mereka sakit dan menderita. Sesekali bathin menerimanya sebagai derita yang pedih dan kita menangis.

Ikatan benang merah yang tak memandang status sosial, agama, suku, bahasa tapi jauh sebagai manusia yang terenggut nuraninya hingga merasakannya. Kita dapat mengalahkan apa saja, memarahi siapa saja, menyalahkan siapa saja bahkan menuduh siapa saja.

Kita menjerit tak bisa menahan rasa sakit. Seolah kita terasuki dan menikmati rasa terabaikan, terpinggirkan dan tak didengarkan. Menyerah dan terpana karena kita bukan mereka. Kita tetap kita. Kita bukan mereka sapa alam nyata kita.

“Bapak” dan “Ibu” penguasa wilayah tanah, kedaulatan dan tahta mengajarkan kita bahwa derita kita bukan derita mereka. Atau penguasa wilayah tanah, kedaulatan dan tahta tidak pernah membawa kita pada ajaran hati, tata krama, sopan santun dan norma-norma adat. Kita menjauhkan dan dijauhkan dari rasa serta intuisi.

Mudah tak perduli. Mudah memaki. Mudah menyakiti dan mudah merusak. Siapapun berada dibelahan bumi sebagai manusia diperintahkan Tuhannya untuk tidak membuat kerusakan alam, hati, saudara serta pertumpahan darah. Lalu apa yang menjadikan kita bisa, biasa dan tega ?

Kita bukan seperti mereka dan kita bukan tak peduli dengan sakit dan derita mereka. Sedikit rasa dan sentuhan moral hanya bisa menyelamatkan nilai rasa untuk sekedar berputar pada porosnya. Itu sedikit rasa, hanya untuk menyelamatkan kita dari rasa takut menjadi seperti mereka. Bukan budak rasa menghamba pada penguasa wilayah tanah, kedaulatan dan tahta yang mengaburkan rasa.

Menyakiti diri sendiri dan meraung-raung pada dunia karena apapun derita tak akan ada yang merasa. Hampir-hampir kita lupa bahwa lingkungan kita berada bisa merasa setelah kita lelah dan kalah. Setelah kita menabrak apa saja rintangan didepan kita. Pasrah pada penguasa yang tak pernah menunjukkan rasa, bahasa dan membela. Bukalah pintu rasa. Memang itu yang kita punya.

Mengurangi segala derita saudara dari aniaya para penguasa di belahan dunia lainnya. Derita mereka adalah derita kita. Begitulah pendahulu kita menyatukan segala upaya, wilayah tanah, kedaulatan dan tahta untuk menyatukan nusantara. Kita masih punya rasa dari sedikit rasa yang tersisa untuk diberikan bagi derita saudara teraniaya.

Tags: , ,

Posted by: zulion | 12 Juni 2009

Nasionalisme

Alhamdulillah….
Beberapa persoalan yang muncul di negara kita terakhr ini ternyata mampu menyentuh relung hati setiap warga negara untuk kembali bersatu dalam semangat bernegara.

Kasus Manohara mungkin awal kepedulian kita kepada nasib diri untuk bercermin betapa tidak pedulinya kita pada persoalan dan nasib saudara sebangsa setanah air. Padahal sebelumnya kita tahu banyaknya persoalan warga negara yang teraniaya di negara lain tidak mendapat perhatian.

Entah kebetulan, muncul kasus ambalat. Penguatan rasa terabaikan dan dikecilkan muncul akibat negara dan warga negara dipandang sebelah mata oleh negara lain. Malah rasa ini bisa mengalahkan ocehan para tim sukses presiden yang coba meracuni pemikiran warga.

Insyaallah kita semakin bersemangat untuk membela hak-hak kita sebagai warga kepada negara manapun yang mencoba untuk menghina dan melukai.Setidaknya, reaksi akibat diabaikan dan dilukai mampu menyamakan persepsi kita tentang pentingnya persatuan.

Satu hal lagi, ini merupakan suatu pemikiran buat para kandidat presiden yang gampang tersinggung agar berhati-hati untuk memimpin negara ini. Ternyata ketika antar warga negara peduli dengan perasaan terlukai dan dibodohi akhirnya menjadi suatu kekuatan untuk melawan ketidak adilan.

Semua sadar, semua punya andil dan semua punya hak untuk dibela dan membela. Kepada calon presiden kita, warga negara Indonesia tidak bodoh untuk gampang menerima apa yang dikoar-koarkan. Kami besok menunggu bagaimana calon presiden berbuat yang terbaik untuk rakyat. Bukan cakap-cakap!

BERSATU KITA TEGUH BERCERAI KITA RUNTUH!

Tags: , , ,

Posted by: mdawaffe | 6 Juni 2009

Yahoo! App and 360 Importer

A

Categories